Barang-barang bermerek cenderung dipalsukan dan digemari banyak orang. Kepalsuan juga dapat ditemukan dalam kehidupan keagamaan. Hanny Layantara adalah seorang pendeta di Surabaya yang divonis bersalah atas tindakan pencabulan terhadap jemaatnya. Bukannya bertobat atas tindakan kejinya, ia justru mengajukan kasasi yang kemudian ditolak oleh Mahkamah Agung. Di balik kesalehan yang dipertontonkan, tersimpan kepalsuan hidup yang menjijikkan. Sungguh miris!
Rasul Petrus dengan keras memperingatkan tentang munculnya guru-guru palsu. Umat Tuhan diminta waspada terhadap ajaran yang memutarbalikkan Injil dan mengumbar kebebasan palsu. Para pengajar palsu ini masuk ke dalam persekutuan dan membawa ajaran yang merusak. Mereka menyangkal kemesiasan Tuhan Yesus yang menghadirkan karya keselamatan bagi dunia. Tidak hanya itu, mereka juga mengajarkan bahwa tidak ada kehidupan setelah kematian. Guru-guru palsu ini bersikap serakah terhadap harta milik gereja. Mereka tanpa ragu memperdaya jemaat demi keuntungan pribadi. Ajaran yang selama ini telah diterima jemaat, yang berasal dari para rasul, justru dicap sebagai ajaran keliru. Perilaku mereka penuh dengan tindakan amoral. Ajaran mereka menghasilkan gaya hidup yang menuruti hawa nafsu sebebas mungkin. Apa pun boleh dilakukan tanpa batasan, asalkan merasa bahagia.
Youth, berpikir kritis dan rasional juga diperlukan dalam kehidupan beriman. Dengan demikian, kita mampu secara matang menimbang dan menilai berbagai ajaran yang datang sehingga terhindar dari ajaran yang menyesatkan.
- Bahaya apa yang dapat ditimbulkan oleh para pengajar palsu?
- Di tengah ragam pengajaran, bagaimana caramu memilih ajaran yang sehat?
Pokok Doa: Memiliki iman yang berakar kuat kepada Kristus dan bersikap kritis.
