Merasa sepi di tengah keramaian kini telah menjadi fenomena di era digital. Kita memiliki ratusan teman di media sosial, linimasa disesaki konten hiburan maupun kisah personal, tetapi hati tetap terasa sepi. Hasil survei dari Into The Light (2023) mencatat bahwa 67% Gen Z Indonesia merasa kesepian meskipun aktif di media sosial. Hiburan tanpa batas tersaji, tetapi setelah semua itu selalu tersisa ruang kosong di hati.
Pemazmur berkata, “Jiwaku haus kepada-Mu.” Hal ini menegaskan bahwa selalu ada ruang kosong dalam diri manusia yang hanya dapat diisi oleh TUHAN. Ada kebutuhan terdalam dari ciptaan yang hanya dapat dipuaskan oleh Sang Pencipta. Rasa sepi hanya dapat terisi ketika manusia secara sadar dan sengaja mencari Allah. Relasi yang hidup membuat manusia mengalami Allah secara nyata. Dari pengalaman eksistensial itu, pemazmur dengan tegas mengakui bahwa kasih setia TUHAN lebih baik daripada hidup itu sendiri. Terkoneksi dengan TUHAN membuat perjalanan hidup menjadi berharga. Sebab, hanya Sang Pencipta yang dapat memuaskan hasrat jiwa, memberi arah hidup, serta memberi kekuatan. Melalui pengenalan yang utuh dan relasi yang erat dengan Allah, hidup menemukan makna yang tidak bergantung pada situasi.
Youth, memiliki relasi yang akrab dan hangat dengan Tuhan memang tidak membuat hidup selalu mudah. Namun, di tengah kompleksitas pergumulan serta rasa sepi yang perlahan menggerogoti, relasi itu memberi damai di hati. Karena itu, sediakanlah waktu teduh, berdoalah dengan sungguh-sungguh, dan berbicaralah kepada Tuhan dalam simpuh.
- Di dalam kehausan batin dan kesepian, mengapa pemazmur mencari Tuhan?
- Bersediakah kamu memberi waktu untuk ”puasa medsos”?
Pokok Doa: Komitmen mengurangi screen time dan terkoneksi dengan Tuhan.
