Kaum muda pada zaman yang semakin kompleks ini kerap diperhadapkan pada ekspektasi yang tinggi. Tekanan akademik dalam perkuliahan, pressure dan situasi toxic di tempat kerja, relasi dengan circle yang tidak selalu suportif, serta harapan tinggi dari keluarga, tidak jarang membuat hidup terasa melelahkan. Situasi ini dapat menggiring seseorang pada sikap membandingkan pencapaian diri dengan kesuksesan orang lain yang berujung pada rasa kecewa. Akibatnya, hidup selalu dijejali rasa rendah diri dan dipenuhi beragam keluhan.
Keadaan yang tidak ideal memang dapat memicu tindakan menggerutu, bersungut-sungut, bahkan amarah. Dalam situasi inilah Rasul Paulus mengingatkan untuk tetap berhikmat dan tidak kehilangan sukacita. Menariknya, nasihat kepada umat di kota Filipi justru datang dari situasi yang sangat tidak ideal. Saat menuliskan suratnya, Paulus sedang dipenjara karena memberitakan Injil. Bahkan, ia semakin tua dan mengalami sakit serius. Namun, berbagai tekanan itu tidak membuatnya ngedumel, marah, atau menyerah. Ia justru hadir menguatkan umat dan mengajak mereka terus menghadirkan terang. Penderitaan tidak harus disikapi dengan gerutu.
Youth, firman Tuhan hari ini mengajak kita untuk tetap bersukacita dalam menghadapi berbagai pergumulan hidup. Paulus mendorong kita untuk menyikapi berbagai kesulitan tanpa kehilangan kemelekatan kepada Kristus yang menumbuhkan kegembiraan. Tidak menggerutu bukan berarti menekan dan memendam perasaan, melainkan berani menjalani hidup yang bermakna bersama Kristus tanpa kehilangan sukacita.
- Apa yang membuat Paulus tetap bersukacita di tengah tekanan kehidupan?
- Di tengah kompleksitas tantangan, apa yang membuatmu tetap bersukacita?
Pokok Doa: Menghadapi tantangan, tetap bersukacita dan hidup bermakna.
