“Power tends to corrupt, and absolute power corrupts absolutely.” Kekuasaan cenderung disalahgunakan, dan kekuasaan yang tanpa batas hampir pasti disalahgunakan secara total. Ini adalah adagium populer dari Lord Acton, seorang sejarawan abad ke-19. Pesannya jelas: semakin besar wewenang, semakin besar pula potensi korupsi dan penyimpangan. Kecenderungan ini dapat menjangkiti siapa saja. Dibutuhkan kerendahan hati untuk menyadari dan mengakuinya.
Pada masa gereja perdana, ada seorang pemimpin jemaat yang justru menunjukkan sikap yang jauh dari kerendahan hati. Namanya Diotrefes. Sebagai penatua, Diotrefes dikenal berperilaku arogan, sombong, dan pendendam. Suatu ketika, seorang penatua menulis surat kepada jemaat yang dipimpin Diotrefes melalui seorang anggota jemaat bernama Gayus. Ada pun Gayus dikenal sebagai pribadi yang hidup benar di dalam Tuhan Yesus. Namun, Diotrefes justru menolak mengakui penatua yang mengirimkan surat itu dan melontarkan kata-kata kasar. Bukan hanya itu, Diotrefes juga tidak mau menerima siapa pun yang berelasi dengan penatua tersebut. Ia hanya ingin jemaat mengenalnya. Berbeda dengan Diotrefes, dalam jemaat tersebut ada seorang pemimpin misionaris bernama Demetrius. Sebagai seorang Kristen, Demetrius bersikap terbuka dan menerima dengan baik kesaksian yang baik dari semua orang. Dengan rendah hati, ia bersedia terus diajar dan dibekali. Demetrius menjadi pemimpin yang patut diteladani.
Youth, ketika ada kesempatan menjadi pemimpin, bersikaplah rendah hati dan terbukalah terhadap koreksi.
- Mengapa Diotrefes menolak surat dan kehadiran para penatua lainnya?
- Apa saja yang dapat menghambat seseorang untuk bersedia memeriksa diri?
Pokok Doa: Keberanian untuk mengevaluasi dan memperbaiki diri.
