Wiji Thukul adalah seorang penyair asal Solo dan aktivis dalam gerakan reformasi pada masa Orde Baru. Puisi-puisinya dengan berani menyuarakan penegakan keadilan dan kebenaran. Ia dinyatakan hilang secara misterius. Namun, karyanya terus hidup dan menginspirasi. “Maka hanya ada satu kata: lawan!” adalah petikan dari syair puisinya yang berjudul “Peringatan”. Melawan dimaknai sebagai tindakan mencintai tanah air melalui upaya aktif menyuarakan kebenaran dan keadilan.
Mazmur 97 menguraikan cinta kepada Allah dalam dua cara. Pertama, bernyanyi bagi TUHAN dengan sukacita. Nyanyian sukacita itu lahir dari rasa syukur atas semua kebaikan TUHAN atas ciptaan. Allah yang berkuasa atas seluruh dunia patutlah disembah. Penyembahan dilakukan bukan hanya oleh manusia, tetapi juga oleh seluruh ciptaan. Awan, kilat, api, gunung, dan langit menyembah serta patuh pada perintah Allah. Kedua, mencintai TUHAN dengan melawan kejahatan dan ketidakadilan. Melawan di sini berarti kesediaan mengoreksi diri apabila telah berbuat dosa. Berani mengoreksi diri ketika menyadari telah melekat pada ciptaan dan tidak lagi menyembah, taat, serta setia kepada TUHAN. Melawan juga berarti tidak memilih diam atau mendiamkan tindakan kejahatan atau ketidakadilan. Melawan berarti memihak pada yang benar, adil, dan baik.
Youth, mari kita isi hidup muda kita dengan kegembiraan menyembah dan memuliakan nama Tuhan. Lawanlah perilaku tidak jujur, menipu, curang, dan jahat terhadap sesama. Suarakan kebenaran dan keadilan melalui aneka cara, seperti media sosial.
- Bagaimana pemazmur menguraikan makna cinta kepada Tuhan?
- Apa saja yang membuat kita enggan menyuarakan dan melawan kejahatan?
Pokok Doa: Ketulusan untuk hidup benar dan keberanian melawan kejahatan.
