“Habis manis sepah dibuang.” Ini adalah peribahasa yang menyatakan bahwa seseorang hanya dimanfaatkan saat dibutuhkan. Setelah tidak dibutuhkan lagi, ia dilupakan atau dibuang begitu saja. Peribahasa ini diambil dari proses pengambilan sari tebu. Setelah sari tebu yang manis diambil untuk dijadikan minuman atau diolah menjadi gula, sepah atau ampas tebu menjadi tidak berguna lagi. Sepah itu kemudian dibuang karena sarinya telah habis.
Mungkin seperti itulah yang dirasakan Hagar. Pada awalnya karena ragu terhadap janji Allah, Abraham—atas usul Sara—menikahi Hagar untuk memperoleh keturunan. Hagar pun melahirkan seorang anak yang dinamai Ismael. Namun, Allah menepati janji-Nya. Sara mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki yang dinamai Ishak. Karena itu, atas permintaan Sara, Abraham menyuruh Hagar pergi. Sara takut Ismael, anak Hagar, akan merebut warisan Ishak. Hagar hanya bisa menerima keputusan itu dan pergi mengembara di padang gurun. Keputusan yang keliru dari Abraham dan Sara membuat Hagar dan Ismael menderita, bahkan hampir kehilangan nyawa di padang gurun. Namun, dalam penderitaan itu, Hagar dan Ismael berseru kepada Allah. Allah mendengar dan menolong mereka. Sekalipun Ismael bukan yang ditetapkan sebagai penerus Abraham, Allah tetap mengasihi Hagar dan Ismael. Ia tidak membiarkan mereka menderita sendirian.
Teens, Allah menyertai mereka yang mengalami ketidakadilan dan mendengarkan seruan mereka. Allah yang peduli juga mengajak kita memperjuangkan keadilan bagi semua orang. Karena itu, sebagai umat Allah, kita diajak untuk menyatakan kepedulian kepada sesama, mendengarkan keluh kesah mereka yang menderita, serta bersedia menolong, bukan justru membuat orang lain semakin sengsara.
