Pernahkah kamu merasakan sendirian di tengah keramaian? Situasi ini biasanya terjadi saat kamu berada bersama banyak orang, tetapi mereka tidak memahami dirimu atau mengenali kebutuhanmu. Hal ini bisa terjadi kepada siapa saja, bahkan saat kamu sedang bersama orang-orang yang mengasihimu. Bukan karena mereka tidak benar-benar mengasihimu, tetapi barangkali mereka tidak sepenuhnya mengerti apa yang sedang kamu alami, atau memang belum pernah merasakan pengalaman atau pergumulanmu.
Teens, situasi ini juga tampak dalam derita Tuhan Yesus di kayu salib. Inilah puncak penderitaan-Nya. Dalam seruan-Nya, kamu dapat melihat betapa besar penderitaan Tuhan Yesus. Seruan ini menggambarkan kesendirian-Nya dalam menanggung derita salib. Apa artinya bagi orang percaya? Hal ini menunjukkan bahwa Tuhan Yesus merasakan pengalaman kesendirian umat manusia dalam derita salib yang ditanggung-Nya. Ia tetap memilih untuk percaya, walaupun kesendirian yang mencekat itu seolah membuat kehadiran Bapa tak nampak dalam derita. Tuhan Yesus tetap berseru kepada Bapa dan menyerahkan nyawa-Nya. Inilah respons Tuhan atas kesendirian itu. Ia tetap berseru kepada Bapa. Ia tidak mencari yang lain. Kesendirian tidak membuat-Nya menyerah; bahkan Ia memberi teladan dengan memercayai bahwa Bapa tetap mendengar seruan-Nya.
Teens, ini adalah teladan yang sangat mahal. Merespons kesendirian dengan tetap berseru kepada Bapa tidaklah mudah. Namun, respons Tuhan Yesus ini menjadi kesaksian bahwa hidup dan mati-Nya ada dalam tangan Bapa. Kamu sebagai orang percaya dipanggil untuk menghidupi teladan yang sama. Kesendirian memang mencekat, tetapi dalam kesendirian, kamu tetap dapat berseru memohon kepada Allah. Ia mengenal pergumulanmu.
