Malala Yousafzai, seorang gadis muda yang mengalami penembakan oleh serdadu Taliban, hingga saat ini tetap bertahan dalam gerakan aktivisme yang menyerukan hak pendidikan bagi anak-anak perempuan. Ia tetap berani berjuang, walaupun ancaman pembunuhan pernah ditujukan kepadanya. Perjuangannya tidak disukai oleh kelompok-kelompok tertentu. Perjuangan untuk hal-hal yang benar memanglah tidak mudah. Dalam situasi seperti inilah, memilih untuk tidak takut menjadi sebuah keputusan yang berat
Teens, tindakan Yusuf dari Arimatea yang datang dan meminta mayat Tuhan Yesus kepada Pilatus untuk dikuburkan tentu saja bukanlah tindakan yang populer dan menarik simpati banyak orang. Namun, Yusuf memilih untuk tidak takut terhadap penolakan orang lain atas tindakannya ini. Ia memilih memberikan penghormatan yang layak dengan menguburkan mayat Tuhan Yesus. Ia berduka atas kematian Tuhan Yesus di kayu salib, tetapi kedukaan ini ia jalani dengan tindakan nyata: menguburkan Tuhan Yesus pada kubur baru yang ia gali di bukit batu. Ini adalah tindakan sederhana, namun menggambarkan pilihan Yusuf untuk setia kepada Tuhan Yesus dan bertahan sebagai murid. Ia berjuang dengan caranya sendiri, cara paling sederhana yang dapat ia lakukan bagi Tuhan Yesus.
Teens, saat Yusuf dari Arimatea memilih meminta dan menguburkan mayat Tuhan Yesus, orang mengenalinya sebagai murid Tuhan Yesus. Namun, tindakannya yang sederhana ini menjadi teladan yang perlu kamu sadari: Yusuf dari Arimatea tidak takut. Kamu sebagai murid Yesus perlu belajar dari keberanian Yusuf dari Arimatea ini. Ia tetap menjadi murid yang setia walaupun gurunya telah wafat di kayu salib. Ia bertahan dan memberikan yang terbaik sebagai murid Tuhan yang setia.
