Ada ungkapan yang berbunyi “nasi sudah menjadi bubur”. Ungkapan ini menggambarkan sesuatu yang telah terjadi dan tidak dapat diulang kembali atau dikembalikan seperti semula. Contohnya ketika akan ulangan, kamu memilih tidak belajar sehingga mendapatkan nilai jelek. Kamu menyesal, tetapi nilai jelek itu tidak bisa kamu ubah. Hal ini mungkin sering terjadi. Perasaan menyesal biasanya baru disadari ketika kamu tidak dapat mengubah apa-apa dan tidak dapat mengulang waktu.
Teens, dalam kisah Alkitab hari ini, kamu dapat melihat Petrus yang menyesal karena telah menyangkal Tuhan Yesus. Sebelumnya, Petrus menyatakan dirinya sebagai pengikut yang setia. Ia berjanji untuk setia sampai mati dan menunjukkan dirinya sebagai sosok yang pemberani di antara para murid. Petrus mengikuti rombongan yang menangkap Tuhan Yesus sampai ke hadapan Imam Besar. Namun, ketika para hamba dan orang-orang di sana bertanya tentang identitasnya, ia menyangkal bahwa dirinya mengenal Tuhan Yesus. Saat ayam berkokok, Petrus akhirnya tersadar bahwa dirinya sudah menyangkal Tuhan sebanyak tiga kali, persis seperti yang telah dikatakan Tuhan Yesus. Tindakan itu bukanlah hal yang seharusnya dilakukan oleh seorang murid Tuhan yang mengaku pemberani. Bagi Petrus, nasi sudah menjadi bubur.
Teens, menyesal itu terasa sangat berat. Petrus menyesali langkah yang ia ambil ketika menyangkal Tuhan Yesus. Namun, jangan sampai kamu terpuruk dalam penyesalan tanpa melakukan apa-apa. Dalam tradisi gereja mula-mula, Petrus dikenal sebagai pemimpin para murid dan rasul yang mempertobatkan banyak orang. Hal itu terjadi karena Petrus tidak terjebak dan tenggelam dalam penyesalan. Selalu ada kesempatan dan pemulihan dari Tuhan sehingga seseorang dapat menjadi pribadi yang lebih baik.
