Ibu si Malin Kundang sangat mengasihi anaknya. Sebagai seorang janda, ia bekerja keras, merawat, memenuhi kebutuhan, bahkan memberi kesempatan agar anaknya bisa berkembang di perantauan. Namun, Malin Kundang justru menyalahgunakan kasih sayang ibunya. Saat hidupnya berhasil, ia tidak mengakui dan melawan ibunya. Melihat hal itu, sang ibu merasa sangat sedih dan menyesal. Bukan karena ia salah mengasihi, tetapi karena kasihnya tidak dihargai dan tujuan baiknya tidak tercapai.
Dalam Kejadian 6:6, dikatakan bahwa “TUHAN menyesal” telah menjadikan manusia di bumi. Ungkapan ini bukan berarti TUHAN salah bertindak atau berubah pikiran seperti manusia. Ini adalah cara Alkitab menggambarkan kesedihan Allah yang sangat dalam. Tujuan mulia ketika TUHAN menciptakan manusia, yaitu untuk hidup benar dan mencerminkan gambar-Nya, ternyata dirusak oleh dosa. Kejahatan manusia begitu besar sehingga memenuhi bumi. Jadi, “penyesalan” TUHAN menunjukkan dukacita-Nya, respons-Nya terhadap dosa, dan bukti bahwa Ia sungguh peduli terhadap ciptaan-Nya. Dosa bukanlah hal kecil, tetapi sesuatu yang menyedihkan hati TUHAN. Dosa manusia adalah hal yang sangat serius sampai-sampai membuat Allah menyesal.
Teens, berjuang keraslah agar hidup yang Tuhan beri dengan penuh kasih tidak kita gunakan untuk melakukan hal-hal yang menyakiti hati-Nya. Seperti ibu si Malin Kundang yang sedih melihat anaknya bersikap durhaka, demikian juga Tuhan berdukacita ketika kita hidup dalam dosa. Karena itu, mari kita belajar hidup benar, menghargai kasih Tuhan, dan memakai hidup ini sesuai dengan tujuan-Nya. Jangan sampai Tuhan “bersedih” karena pilihan hidup kita, tetapi biarlah hidup kita menjadi sesuatu yang menyenangkan hati-Nya.
