Anthoni de Mello menekankan pentingnya kesadaran (awareness) dalam hidup. Ia menyoroti kenyataan bahwa banyak orang Kristen tampak hidup, aktif, bekerja, melayani, dan beraktivitas, tetapi sesungguhnya mati. Kematian ini bukan soal fisik, tetapi terputusnya tindakan dari kesadaran yang sejati. Hidup berjalan otomatis tanpa makna dan motivasi yang murni dari hati. Banyak orang terjebak dalam rutinitas, melakukan segala sesuatu demi pengakuan dari orang lain, bukan sebagai persembahan yang penuh kesadaran dan kasih kepada Allah.
Jemaat Sardis memang menerima komentar positif, tetapi pujian itu sejatinya hanya pembuka sebelum kritik tajam disampaikan kepada mereka. Gereja ini memiliki reputasi yang terlihat baik di mata orang banyak, seolah-olah penuh kehidupan rohani. Namun, di hadapan Tuhan, kenyataannya sangat berbeda: mereka mati secara rohani, rapuh, dan kehilangan inti iman. Dari luar tampak aktif, tetapi di dalamnya kosong. Karena itu, Tuhan memperingatkan mereka untuk segera bangun, berhenti berpuas diri, dan tidak lagi hanya membanggakan keberhasilan di masa lalu. Mereka dipanggil kembali untuk tekun bekerja bagi Kerajaan Allah.
Youth, penampilan luar yang tampak baik tidaklah cukup. Iman harus nyata dalam kehidupan sehari-hari. Banyak orang dan gereja bisa terjebak dalam rutinitas ibadah atau prestasi rohani di masa lalu, sehingga lupa bahwa iman harus terus dibangun, dijaga, dan diperbarui. Melalui jemaat di Sardis, kita diingatkan untuk menyadari keadaan yang sesungguhnya, bangkit dari kepalsuan prestasi, dan kembali hidup dalam pengharapan dan kesetiaan kepada-Nya.
- Kritik apa yang ditujukan kepada jemaat di Sardis?
- Bagaimana kita memastikan agar tidak berpuas diri dengan ”kesan baik”?
Pokok Doa: Terus belajar mengoreksi diri agar berkenan kepada Allah.
