Malam itu hujan turun dengan deras. Selva baru saja pulang dari kegiatan kampus. Jalanan gelap dan cukup berkabut, sehingga jarak pandangnya terbatas. Hanya lampu depan motornya yang menjadi penerang, membantunya melihat jalan beberapa meter ke depan. Ia tidak bisa melihat ujung jalan. Namun ia tetap maju, perlahan tetapi pasti. Rasa percaya pada lampu motornya yang tidak begitu terang itu membawanya pulang ke rumah dengan selamat.
Abraham menerima janji besar dari TUHAN, yaitu ia akan menjadi bapa segala bangsa. Padahal saat itu, Abraham dan Sara belum memiliki anak. Abraham berumur hampir 100 tahun sedangkan Sara telah mati haid. Bagaimana mungkin mereka memiliki anak dalam kondisi seperti itu? Secara logika dan medis, itu mustahil. Namun, Abraham tahu bahwa kendati secara manusia tidak mungkin, ia tidak menjadi lemah dalam imannya kepada TUHAN (ayat 19). Ia tidak bimbang karena ketidakpercayaan. Ia tetap beriman dan percaya kepada TUHAN yang berkuasa atas hidupnya. Akhirnya ia pun menerima janji itu.
Selva yang berani melanjutkan perjalanan di malam hari saat hujan lebat merupakan gambaran iman kita kepada Tuhan. Ya, hidup kita itu bukanlah peta utuh yang bisa kita lihat arahnya. Kita hanya memiliki satu terang untuk mengambil satu langkah ke depan. Itulah langkah iman. Kita hanya perlu percaya bahwa Dia cukup, janji-Nya dapat dipercaya, dan akan Dia genapi. Meskipun realitas hidup saat ini penuh dengan ketidakpastian atau tak terlalu jelas, tetaplah melangkah bersama Tuhan. Satu langkah dalam satu waktu. Itu cukup!
- Apa yang membuat Abraham tetap percaya, meskipun situasinya tampak mustahil? (ayat 18-21)
- Apa arti percaya kepada Tuhan dalam keseharianmu sebagai mahasiswa/pekerja?
Pokok Doa: Iman yang teguh meski hidup penuh ketidakpastian.
