Norman Foster adalah arsitek ternama yang mendesain bangunan-bangunan ikonik seperti Bandara Internasional Beijing dan Gedung Gherkin di London. Selain mendesain, ia juga mengawasi pembangunan untuk memastikan agar gedung-gedung itu tidak hanya indah dilihat, tetapi juga kokoh dan tahan lama. Namun, bayangkan jika orang-orang hanya memuji bangunannya dan melupakan arsiteknya. Atau mereka hanya terpukau oleh tampilan luar gedung itu, tanpa memahami ide besar dan tujuan di balik bangunannya.
Musa adalah tokoh besar yang dihormati dalam dunia Perjanjian Lama karena memimpin bangsa Israel keluar dari Mesir dan menerima hukum TUHAN. Surat Ibrani menggambarkan Musa sebagai hamba yang setia. Ia setia dalam pekerjaan rumah Allah sebagai pelayan yang melayani umat. Namun, ia bukan pemilik rumah. Surat Ibrani menegaskan bahwa pemilik rumahnya adalah Yesus, Anak Allah, Sang Arsitek yang merancang, membangun, dan memiliki rumah tersebut. Kita, umat-Nya, adalah bagian dari rumah Allah jika kita tetap teguh berpegang pada iman dan pengharapan dalam Kristus.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita menghadapi berbagai tantangan yang bisa menguji kesetiaan kita kepada Yesus. Ada godaan untuk menjadikan iman sebagai rutinitas kosong, ada pula ajaran atau gaya hidup populer yang bertentangan dengan nilai kristiani. Semua itu seperti angin dan badai yang mengancam rumah iman kita. Karena itu, kita perlu tetap setia, teguh, dan terus mengandalkan-Nya. Menjadi bagian dalam rumah-Nya berarti hidup dalam pengharapan dan iman yang nyata.
- Mengapa Yesus layak menerima kemuliaan lebih besar daripada Musa?
- Apa tantangan besar yang membuatmu sulit setia dan teguh dalam iman kepada Kristus?
Pokok Doa: Hidup dalam pengharapaan dan iman yang nyata.
