Andrea baru saja bersiap mengikuti lomba lari maraton untuk pertama kalinya. Ia membeli sepatu lari, bergabung dengan komunitas pelari, dan rajin mengunggah proses latihannya di media sosial. Namun, Andrea ternyata tidak konsisten berlatih. Ia hanya berlatih saat cuaca bagus atau ketika ada yang menemani. Ketika hari lomba maraton tiba, ia hanya mampu berlari sejauh 3 km. Ketika para peserta lain masih penuh semangat berlari, Andrea sudah berhenti. Seorang pelatih dari komunitasnya menghampirinya dan berkata, “Maraton bukan tentang siapa yang paling bergaya di awal, melainkan tentang siapa yang tetap bertahan sampai akhir.”
Tuhan Yesus menyampaikan pesan yang sama kepada jemaat di Smyrna. Mereka sedang mengalami penderitaan, kemiskinan, bahkan penganiayaan. Yesus tahu persis penderitaan yang mereka alami. Dia meminta mereka untuk tidak menyerah terhadap penderitaan. Yesus tidak menjanjikan akan segera menyelesaikan semua kesulitan mereka. Namun, Ia menjanjikan kemenangan bagi mereka yang setia sampai akhir. Sebab, kemenangan sejati adalah milik mereka yang tetap bertahan, meskipun perjalanan terasa panjang dan gelap.
Hidup sebagai orang Kristen bukan seperti lari jarak pendek (sprint), tetapi seperti maraton. Diperlukan komitmen dan ketekunan untuk terus berlari hingga garis akhir meski lelah, merasa sendiri, atau tergoda untuk menyerah. Kita diajak untuk tidak takut dan tidak menyerah menghadapi tantangan hidup, baik di kampus, tempat kerja, maupun dalam kehidupan sehari-hari. Tuhan menginginkan kita untuk tetap setia sampai akhir.
- Apa yang dijanjikan kepada mereka yang setia sampai mati?
- Bagaimana kamu bisa terus bertahan dalam iman di tengah rutinitas hidup yang melelahkan?
Pokok Doa: Tidak takut atau menyerah dalam penderitaan. Setia sampai akhir.
