Steve Jobs, pendiri Apple, dikenal sebagai sosok jenius yang mengubah dunia teknologi. Menjelang akhir hidupnya, Jobs menuliskan beberapa pesan penting yang lahir dari perenungannya selama menjalani perawatan. Dalam pesannya, ia menyadari bahwa harta, kekuasaan, dan kesuksesan bukanlah hal yang paling berarti saat seseorang mendekati akhir perjalanan hidup. Ia menegaskan bahwa uang dan popularitas bukan sumber kebahagiaan sejati. Sebaliknya, yang memberikan kebahagiaan sejati dan ketenangan adalah hubungan yang tulus, kasih yang murni, dan makna hidup yang sejati.
Hal ini sejalan dengan peringatan yang disampaikan Stefanus dalam Kisah Para Rasul 7:35ā43. Stefanus mengingatkan para pemimpin Yahudi tentang nenek moyang mereka, bangsa Israel, yang menolak kepemimpinan Musa dan berpaling dari Allah. Ketika mereka mulai bosan menunggu Musa dan tidak sabar menanti jawaban Allah, mereka membuat anak lembu emas untuk disembah. Mereka mengira dengan adanya berhala yang bisa dilihat dan disentuh, mereka akan mendapatkan kebahagiaan, jawaban atas doa, dan jalan keluar dari kesulitan. Mereka lupa kepada Allah yang telah berulang kali menunjukkan kasih, kuasa, dan mukjizat-Nya.
Youth, sering kali kita pun terjebak dalam pencarian āberhala modernā. Karier, uang, kekuasaan, dan pengakuan menjadi fokus utama dalam hidup. Kita mengira semua itu akan membawa ketenangan dan kebahagiaan. Kenyataannya, semua itu fana dan bisa mengecewakan. Sebenarnya yang kita butuhkan adalah relasi yang hidup dengan Allah karena Dialah Sumber damai, kekuatan, dan sukacita sejati.
- Bagaimana sikap Musa dan Allah dalam menghadapi ketidaktaatan bangsa Israel?
- Apa ākemilau palsuā dalam hidupmu yang bisa mengalihkan perhatianmu dari Tuhan?
Pokok Doa:Ā Ā Ā Ā Keteguhan iman kepada Tuhan.
