Michael Phelps adalah perenang legendaris Amerika Serikat yang telah memenangkan 23 medali emas Olimpiade. Ia hidup dengan penuh kebanggaan dan menerima banyak pujian. Namun, pada Olimpiade 2012, ia mengalami depresi berat dan kecanduan alkohol. Dalam sebuah wawancara, ia berkata, “Saya merasa bahwa nilai saya sebagai manusia ditentukan oleh medali.” Karena mengandalkan prestasinya, ia merasa kosong. Setelah mulai memulihkan hubungannya dengan Tuhan, ia menyadari bahwa nilai dirinya bukan terletak pada pencapaiannya, melainkan pada siapa dirinya di hadapan Tuhan.
Rasul Paulus memperingatkan jemaat di Galatia agar tidak kembali kepada hukum Taurat, khususnya sunat, sebagai syarat untuk dibenarkan di hadapan Allah. Sebab, mereka mulai berpikir bahwa selain percaya kepada Yesus, mereka juga harus menaati hukum agama Yahudi supaya mendapatkan keselamatan. Paulus mengingatkan bahwa ketika mereka mengandalkan usaha dan ritual keagamaan sebagai dasar keselamatan, mereka telah menolak karya salib Kristus. Padahal, keselamatan itu dialami karena kerelaan Yesus untuk mati bagi umat manusia.
Banyak dari kita hidup seperti Phelps dan jemaat di Galatia yang mengandalkan prestasi, termasuk prestasi rohani. Kita merasa lebih baik dari orang lain karena rajin beribadah dan melayani. Padahal, tidak ada usaha atau prestasi yang dapat membeli keselamatan. Sebab, keselamatan adalah anugerah yang diberikan Tuhan secara cuma-cuma. Tugas kita adalah meresponsnya dengan ucapan syukur melalui kasih dan pengampunan terhadap sesama.
- Bagaimana cara Rasul Paulus mengingatkan jemaat di Galatia?
- Apa yang selama ini menjadi dasar nilai dirimu: prestasi, pelayanan, atau kasih karunia Tuhan?
Pokok Doa: Belajar untuk hanya mengandalkan kasih Tuhan.
