Sari adalah seorang mahasiswi tingkat akhir yang merasa hidupnya sangat sulit. Skripsinya belum selesai karena terus-menerus direvisi. Beasiswa yang ia harapkan tak kunjung cair. Ia berdoa setiap hari, tetapi tidak ada jawaban. Ia mulai bertanya, “Tuhan, di mana Engkau? Mengapa Engkau diam saja?” Menjelang minggu terakhir pengumpulan skripsi untuk mendaftar wisuda, revisi terakhirnya akhirnya diterima dan beasiswanya pun cair. Saat itu, ia sadar bahwa semua terjadi tepat pada waktu Tuhan.
Dalam Mazmur 13, Daud mencurahkan isi hatinya kepada TUHAN di tengah situasi yang sangat sulit dan penuh tekanan. Ia mengungkapkan kekhawatiran, kesedihan, dan kegelisahannya karena musuh-musuh yang seolah menertawakannya. Daud merasa TUHAN begitu jauh dan doanya tak kunjung mendapat jawaban. Meskipun begitu, Daud tidak marah atau kecewa kepada TUHAN. Ia tetap memuji dan memuliakan nama TUHAN. Ia tetap berdoa dan percaya bahwa TUHAN setia dan akan menolongnya.
Youth, mungkin kita pernah merasakan apa yang dialami Sari atau Daud. Kita merasa bahwa doa dan harapan kita tidak mendapat jawaban. Ketika sedang berada dalam pergumulan berat, kita merasa Tuhan begitu jauh dan seakan meninggalkan kita. Hal ini bisa membuat kita goyah, terpuruk, dan menyalahkan Tuhan. Namun, percayalah bahwa Tuhan tidak pernah menutup mata dan telinga-Nya terhadap kita. Waktu-Nya selalu tepat dan tidak pernah terlambat. Berserulah kepada-Nya saat hatimu goyah. Ingatlah selalu kasih setia-Nya yang nyata bagi kita.
- Bagaimana Daud mengungkapkan isi hatinya kepada Tuhan?
- Bagaimana kamu bisa belajar memercayai waktu Tuhan, meskipun kamu belum melihat hasilnya sekarang?
Pokok Doa: Percaya pada waktu-Nya yang tak pernah terlambat.
