Risto dan teman-temannya sedang berenang di sungai yang deras. Tak lama berselang, arus semakin kuat. Risto dan teman-teman tidak pasrah atau membiarkan tubuh mereka hanyut terbawa aliran sungai. Mereka tetap berenang melawan arus. Mereka tahu bahwa di depan sana ada tempat aman untuk menepi dari derasnya arus sungai. Berenang di tengah derasnya arus tentu saja melelahkan. Melawan arus memang membutuhkan tenaga, keyakinan, keberanian, serta alasan yang kuat untuk tetap bertahan.
Rasul Paulus mengingatkan, âJangan kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tidak percaya.â Ini bukan hanya soal relasi pribadi, tetapi juga prinsip hidup di tengah orang-orang yang memiliki nilai dan pandangan yang berbeda dengan kita. Kita tidak bisa berkata, âAku hidup untuk Kristusâ atau âAku adalah anak-Nyaâ, tetapi dalam kenyataannya kita masih menyatu dengan nilai-nilai dunia. Rasul Paulus menggunakan perbandingan seperti âterang dan gelapâ, âKristus dan Belialâ, âBait Allah dan berhalaâ. Ini bukan tentang menentukan siapa yang boleh atau tidak boleh dijadikan teman, atau membenci mereka yang berbeda, tetapi tentang hidup yang jelas dan tidak bercampur antara nilai Allah dan nilai dunia.
Youth, hidup di era ini seakan merayu kita untuk berkompromi dengan hal-hal yang bertentangan dengan nilai-nilai Kristus. Namun, Tuhan memanggil kita untuk tetap hidup kudus di tengah derasnya arus kehidupan. Melawan arus dunia yang menolak nilai-nilai Allah memang melelahkan dan kadang membuat kita ingin menyerah. Namun ingatlah, Dia memegangmu dengan kuat.
- Bagaimana cara Rasul Paulus mengajak kita untuk hidup kudus?
- Apa tantangan terbesarmu saat mencoba hidup dengan nilai-nilai Allah di dunia kerja atau kampus?
Pokok Doa:Â Â Â Â Â Kekuatan dan keteguhan hati melawan arus dunia.
