Zaman sekarang, banyak orang menyebut anak muda sebagai “generasi stroberi”. Terlihat bagus dari luar, tetapi rentan, gampang stres, gampang menyerah, dan rapuh ketika menghadapi tekanan. Sebenarnya, menjadi “generasi stroberi” atau tidak adalah sebuah pilihan.
Kisah Para Rasul 13:1–12 menunjukkan bahwa Paulus dan Barnabas juga pernah berada dalam masa sulit. Ketika mereka diutus oleh Roh Kudus untuk membawa kabar baik, mereka berhadapan dengan Elimas, si tukang sihir yang berusaha menghalangi misi mereka. Apakah mereka mundur? Tidak. Mereka memilih untuk tetap melanjutkan misi itu. Keduanya tahu siapa yang mengutus mereka, yaitu Tuhan sendiri. Mereka terus melangkah maju dan tegar. Dalam kehidupan masa kini, bisa saja muncul “Elimas” yang hendak menghentikan langkah iman kita. “Sihir” itu bisa berwujud konten yang tidak sehat, lingkungan yang toxic, dan berbagai pengaruh yang membuat kita goyah. Di tengah dunia yang penuh tekanan dan perbandingan, kita pun dapat menjadi kuat jika hidup kita dipimpin oleh Tuhan, bukan oleh opini orang lain.
Youth, kamu diciptakan bukan untuk sekadar terlihat baik, tetapi untuk menjadi kuat, berakar dalam iman, dan membawa dampak nyata bagi orang-orang di sekitarmu. Menjadi kuat bukan berarti bersikap sok tegar atau menutupi kelemahan, melainkan hidup dengan dipimpin dan dikuatkan oleh Roh Kudus. Jadilah generasi yang tidak hanya manis di permukaan, tetapi juga tangguh menghadapi tekanan; tetap berdiri ketika diuji dan terus bertumbuh dalam kasih dan kebenaran Tuhan.
- Apa yang dilakukan Paulus ketika Elimas berusaha menghalangi?
- Bagaimana cara kita menghadapi ”Elimas” di kehidupan sehari-hari?
Pokok Doa: Kekuatan untuk menghadapi tantangan dan penolakan.
