Papa bercerita kepada Didi tentang seekor rusa yang dijauhi binatang lain. “Kenapa, Pa?” tanya Didi. “Karena ia sering menegur temannya dengan cara yang salah. Ia mengatakan kura-kura berjalan lambat dan memarahi singa karena makan daging,” jawab Papa. Didi tertawa, tetapi Papa berkata, “Kalau menegur tanpa hikmat, malah bisa menyakiti orang lain.”
Adik-adik, mari kita baca Ayub 4:1-6! Elifas mencoba menegur Ayub. Namun, tegurannya tidak tepat dan justru terdengar seperti tuduhan. Ia tidak benar-benar memahami keadaan Ayub yang sedang menderita. Seharusnya, Elifas lebih berhati-hati dan meminta hikmat dari TUHAN sebelum berbicara.
Adik-adik, teguran yang baik bukan untuk menyakiti, tetapi untuk menolong. Karena itu, sebelum menegur teman, kita perlu berpikir dan berdoa terlebih dahulu. Mintalah hikmat dari Tuhan agar kata-kata kita lembut dan penuh kasih. Dengan begitu, teguran kita bisa membawa kebaikan.
Doa: Bapa di surga, berilah aku hikmat-Mu ketika aku hendak menegur, agar
teguran itu berdampak baik. Dalam Yesus aku berdoa. Amin.
