Sebuah tim sepak bola menelan kekalahan yang menyakitkan. Mereka kebobolan di menit terakhir. Penyebabnya adalah sang kiper yang tidak berada di dekat gawang. Ia geram dengan timnya yang begitu tidak bersemangat. Di menit terakhir, ia pun maju ke depan untuk membantu serangan. Tidak diduga, tim lawan menyerang balik dan berhasil menjebol gawang. Sang kiper merasa bersalah karena ia mengerjakan tugas yang bukan menjadi bagiannya.
Setelah Yakub meninggal, saudara-saudara Yusuf ketakutan dan berpikir bahwa ia akan membalas semua kejahatan masa lalu. Yusuf pun berkata, “Janganlah takut, sebab apakah aku ini Allah?” Yusuf tidak hanya berkomitmen untuk tidak membalas perbuatan jahat saudara-saudaranya. Ia juga berprinsip bahwa pembalasan adalah bagian Allah, bukan bagian manusia. Bagian manusia adalah memelihara kehidupan. Tugas ini sudah Allah berikan sejak zaman penciptaan. Yusuf pun menghayati bahwa hidupnya selama ini memang dituntun Allah untuk melakukan tugas tersebut (ayat 20). Itulah yang dihayati Yusuf saat menghadapi saudara-saudaranya. Ia mengerjakan tugas yang menjadi bagiannya, yaitu memelihara hidup mereka. Sikap inilah yang membuat Yusuf berhasil mengampuni saudara-saudaranya.
Teens, pengampunan memang tidak mudah tetapi bukan hal yang mustahil dilakukan. Dalam pengampunan, kita hanya diminta untuk mengerjakan bagian manusia, yaitu memelihara kehidupan. Bukan tugas manusia untuk membalas kejahatan atau mengubah hidup seseorang. Biarkan Tuhan yang mengerjakan bagian itu. Jangan sampai kita seperti kiper yang tidak fokus menjaga gawang. Fokuskan diri pada tugas memelihara kehidupan saat menghadapi orang-orang yang membutuhkan pengampunan. Hadirkan ketenangan dan kebaikan di hadapan mereka. Inilah bagian kita dalam proses pengampunan.
