Siapa sih yang tidak senang kalau punya kelebihan dibanding orang lain? Sebagai manusia, wajar kalau kita merasa senang dan bangga. Apalagi ketika kelebihan itu membuat diri kita lebih istimewa dibanding yang lain.
Yusuf merasakan hal tersebut. Ia memiliki banyak hal yang membuatnya lebih istimewa dibanding saudara-saudaranya. Yusuf menjadi anak kesayangan Yakub. Ia diberi jubah yang begitu indah oleh ayahnya. Yusuf pun diberi karunia oleh TUHAN untuk menafsirkan mimpi. Semua kelebihan ini dimiliki bukan karena keinginannya. Ia tidak bersalah karena semua kelebihan ini. Namun, Yusuf tampaknya tidak peka kalau kelebihan ini membuat saudara-saudaranya cemburu. Dengan sengaja ia menceritakan mimpi yang menggambarkan dirinya lebih istimewa dibanding yang lain. Tindakan ini membuat saudara-saudara Yusuf merasa semakin direndahkan. Mereka semakin panas hati dan benci kepada Yusuf. Yakub pun sampai menegur Yusuf oleh karena tindakannya yang tidak peka itu.
Teens, tidak ada yang salah ketika merasa bangga dengan kelebihan yang dimiliki. Namun, kita harus memiliki kepekaan terhadap kondisi orang lain. Tidak semua orang memiliki privilege yang kita rasakan. Jangan sampai kelebihan yang kita miliki membuat orang lain merasa direndahkan. Apalagi jika kondisi ini terjadi di dalam relasi keluarga. Mungkin kita memiliki kelebihan dibanding kakak atau adik kita. Mungkin kita menjadi anak kesayangan dari orang tua. Kondisi ini memang nyaman dan menyenangkan. Namun, belajar dari kisah Yusuf, kita perlu menguasai diri. Panggilan utama kita adalah merawat relasi persaudaraan. Karena itu, kita butuh merendahkan hati dengan tidak memamerkan keistimewaan yang dimiliki. Kita malah perlu menggunakan kelebihan itu untuk menolong mereka yang kerap direndahkan
