Banyak orang Kristen yang merasa bangga memakai simbol salib. Ada yang menjadikannya kalung, gantungan kunci, wallpaper HP, atau pajangan di rumah. Simbol itu menunjukkan iman kepada Kristus yang sudah menyelamatkan kita. Pada masa awal kekristenan, situasinya sangat berbeda. Tidak ada yang mau memakai salib. Waktu itu, salib bukan lambang kebanggaan. Salib menjadi simbol kutuk dan kematian. Bagi orang zaman dulu, salib adalah tanda hukuman paling memalukan dan menyakitkan. Namun, iman mengubah segalanya. Bentuknya tetap sama, tetapi maknanya berubah secara kontras.
Situasi seperti itu juga dialami Yusuf. Setelah lama menyembunyikan jati dirinya, ia akhirnya mengungkapkan identitas sebenarnya kepada saudara-saudaranya. Mereka terkejut dan takut. Mereka khawatir jika Yusuf membalas semua kejahatan pada masa lalu. Namun, Yusuf menenangkan mereka. Ia tidak melupakan perbuatan jahat itu, tetapi kini melihat semua peristiwa tersebut dari sudut pandang yang berbeda. Yusuf percaya bahwa Allah sudah merancang setiap peristiwa. Tanpa dijual ke Mesir, ia tidak akan menjadi penguasa di sana. Melalui jalan itulah, Yusuf bisa menyelamatkan keluarganya dari bencana kelaparan di tanah Kanaan. Semua itu dapat ia maknai karena imannya kepada Allah.
Teens, kita tidak bisa mengubah masa lalu. Kita juga tidak bisa sepenuhnya melupakan kenangan buruk yang pernah terjadi. Iman kepada Tuhan pun tidak membuat peristiwa itu hilang dari ingatan. Iman menolong kita melihatnya dengan cara yang baru. Percayalah, segala sesuatu terjadi dalam rancangan Tuhan yang membawa kebaikan. Karena itu, temukanlah peran Tuhan di dalam setiap peristiwa agar kita dapat memaknainya dan mengalami pemulihan. Belajarlah melihat segala hal sebagai kisah kasih Allah dan kebaikan-Nya yang tidak terbatas.
