Fitnah adalah salah satu hal paling menyakitkan dalam hidup. Orang lain menuduh kita melakukan sesuatu yang tidak kita perbuat. Kita pasti merasa tidak adil. Di zaman sekarang, fitnah bisa tersebar dengan cepat, bahkan lewat satu pesan, unggahan di media sosial, atau hasil artificial intelligence. Beragam cara kita lakukan untuk mengklarifikasi hal tersebut. Mirisnya, sering kali yang menang bukanlah kebenaran, melainkan suara terbanyak netizen.
Yusuf juga pernah difitnah. Istri Potifar memfitnah Yusuf dengan menuduhnya meniduri dirinya. Potifar yang marah akhirnya menjebloskan Yusuf ke penjara. Yusuf bisa saja membela diri atau membalas. Namun, ia memilih untuk diam dan tetap tenang. Dalam ketenangan, Yusuf justru merasakan penyertaan dan kasih TUHAN. Ia sadar bahwa TUHAN masih bersamanya, bahkan di tempat yang gelap sekalipun. Karena itu, Yusuf tetap setia dan terus berbuat baik. Akhirnya, ia mengalami pemulihan. Kepala penjara menjadikan Yusuf sebagai orang kepercayaan. Yusuf dipercaya untuk mengurus seluruh tahanan.
Teens, tidak ada seorang pun yang senang difitnah. Wajar jika kita ingin segera melawan ketika nama baik kita dirusak. Namun, di saat seperti itu, kita diajak untuk berhikmat. Fitnah pasti melukai hati, tetapi kita perlu berhati-hati agar respons kita tidak lahir dari amarah dan luka. Jika itu terjadi, kita hanya akan membalas luka dengan luka. Melalui teladan Yusuf, kita belajar untuk memilih diam dan tetap tenang. Dalam ketenangan, kita bisa melihat kebaikan Tuhan yang jauh lebih besar daripada fitnah itu sendiri. Saat fokus kita tertuju pada kebaikan Tuhan, hati kita akan dipenuhi kembali dengan sukacita. Lalu, bagaimana dengan fitnah itu? Tenang saja. Ketika kita terus berjalan di jalan kebenaran, Tuhan sendirilah yang akan menyingkapkan kebenaran yang sejati.
