βJangan nangis, seperti anak kecil saja!β Kita mungkin pernah mendengar kalimat itu. Banyak orang menganggap tangisan sebagai tanda kekanak-kanakan. Ada juga yang menganggapnya sebagai tanda kelemahan. Akibatnya, banyak orang menahan perasaan demi berpura-pura kuat. Padahal mereka sedang berduka, hancur, dan terluka di dalam hati.
Yusuf juga pernah merasakan hal yang sama. Sebagai penguasa Mesir, ia harus menjaga wibawa dan tampil kuat di depan orang banyak. Namun, saat ia berjumpa dengan adiknya, Benyamin, perasaannya tidak lagi dapat ditahan. Ia pun mencari tempat tertutup dan menangis (ayat 30). Tangisan itu menunjukkan bahwa Yusuf bukan manusia super. Ia tetap manusia biasa yang bisa lemah dan terluka. Namun, tangisannya bukan tanda kelemahan, melainkan tanda kejujuran. Melalui tangisan, Yusuf melepaskan kerinduan dan beban yang lama ia pendam. Air mata itu justru menjadi jalan bagi pemulihan, seolah membasuh hati yang hancur dan membuatnya pulih kembali.
Teens, itβs okay to cry! Jangan takut menangis. Menangis bukan berarti lemah. Toh, manusia pasti memiliki kelemahan. Kita tidak perlu malu dan gengsi dengan hal itu. Menangis justru menjadi tanda bahwa kita berani jujur terhadap perasaan sendiri. Semua orang bisa merasa sedih dan lelah, bahkan orang yang kuat sekalipun. Tangisan justru bisa membantu kita melepaskan emosi yang selama ini dipendam. Dari sana muncul kelegaan. Dalam kelegaan itu Tuhan bekerja memulihkan hati kita. Jadi, jika sedang sedih, menangislah, tidak perlu ditahan. Tuhan dapat memakai tangismu untuk memberimu kekuatan. Seperti kata pemazmur, βTUHAN itu dekat kepada orang-orang yang remuk hati, dan Ia menyelamatkan orang-orang yang patah semangatβ (Mzm. 34:19).
