Pernah mendengar istilah “kambing hitam”? Istilah ini bukan tentang hewan sungguhan, tetapi tentang seseorang yang dijadikan sasaran kesalahan supaya orang lain terlihat benar. Biasanya, kambing hitam muncul ketika seseorang tidak mau mengakui kesalahannya sendiri. Ia pun mencari “korban” lain untuk dituduh atas kesalahan tersebut.
Tidak demikian dengan Yehuda. Yehuda pernah terlibat masalah besar dengan Tamar, menantunya. Awalnya, Tamar menikah dengan anak Yehuda bernama Er, tetapi Er meninggal tanpa mempunyai anak. Sesuai tradisi waktu itu, Tamar harus menikah dengan adik Er, yaitu Onan. Namun, Onan juga meninggal. Yehuda pun takut anaknya yang terakhir, Syela, ikut mati kalau menikah dengan Tamar. Akhirnya, Yehuda enggan mengabulkan janji itu. Tamar pun kecewa. Untuk membalasnya, suatu hari Tamar menyamar sebagai perempuan lain dan tidur dengan Yehuda tanpa sepengetahuannya. Ketika Tamar mengandung, Yehuda marah, sampai akhirnya ia tahu bahwa dirinyalah yang menghamili Tamar. Saat itu juga, Yehuda sadar. Ia tidak mengambinghitamkan Tamar. Yehuda mengakui kesalahannya karena tidak menepati janji. Ia pun menunjukkan penyesalannya dengan tidak pernah lagi bersetubuh dengan Tamar.
Teens, sikap Yehuda yang berani mengakui kesalahan patut kita teladani. Tidak banyak orang yang memiliki keberanian seperti itu. Kebanyakan justru sibuk mencari kambing hitam, menyalahkan orang lain agar dirinya terlihat benar. Hal seperti ini juga sering terjadi di rumah. Saat ada masalah, sesama anggota keluarga bukan saling meminta maaf, tetapi saling menuntut maaf. Mari kita belajar dari Yehuda yang berani mengaku salah dan menunjukkan pertobatan. Tidak perlu mencari kambing hitam. Justru dari pengakuan dan pertobatan seperti inilah pemulihan dalam keluarga dapat dimulai.
