Teens, publik sering dikejutkan oleh berita dari artis yang tak lagi berjaya. Tidak sedikit dari mereka yang hidup dalam keprihatinan. Dulu, hidup mereka glamor, berlimpah, dan jauh dari kesulitan. Namun, saat popularitas meredup, hasil kesuksesan perlahan lenyap. Kesuksesan mereka nikmati sepuasnya pada masanya dan abai pada masa depan.
Yusuf tidak seperti itu. Saat Mesir mengalami kelimpahan hasil panen selama tujuh tahun, Yusuf memikirkan masa depan. Ia tahu bahwa kelimpahan ini tidak akan terjadi selamanya. Kelimpahan tidak membuatnya lupa diri. Ia tidak menikmati masa kelimpahan dengan menghabiskan sumber daya yang ada. Yusuf tidak menggampangkan masa depan. Masa kelimpahan ia pakai untuk menyiapkan hari-hari yang akan datang. Firman Tuhan kemudian menegaskan bahwa tindakan ini adalah sikap yang benar. Ketika musim kelaparan tiba, di seluruh negeri Mesir tetap ada roti. Firaun pun meminta rakyat Mesir untuk datang kepada Yusuf untuk meminta roti. Bahkan, bangsa-bangsa lain di luar Mesir pun datang kepada Yusuf untuk membeli gandum.
Teens, tindakan benar Yusuf patut kita teladani dalam menjalani hidup. Kita hidup bukan hanya untuk hari ini. Jangan menggampangkan masa depan, seolah di hari nanti ada berkatnya tersendiri. Apalagi, berkat Tuhan bukan hanya soal materi. Tuhan memberi waktu yang perlu kita kelola dengan bijak. Gunakan waktu bukan hanya untuk kesenangan sesaat, tetapi untuk melakukan sesuatu yang berguna bagi hari esok. Tuhan juga memberi kesehatan yang perlu kita jaga sejak sekarang. Kesempatan bersekolah juga Tuhan anugerahkan. Belajarlah dengan rajin, bukan hanya demi nilai hari ini, tetapi demi bekal hidup. Memang tindakan ini membutuhkan pengorbanan. Namun, pengorbanan ini tidak seberapa dibandingkan dengan hasil yang diterima di masa depan.
