Ade sangat pandai bermain gitar. Saat mengunggah videonya ke media sosial, ia mendapat banyak like. Hal itu membuatnya bermimpi menjadi content creator terkenal. Ia pun rajin membuat video baru untuk mengejar viewers. Namun, hasilnya tidak sesuai harapan. Jumlah penontonnya sedikit. Ia pun secara perlahan kehilangan sukacita bermain musik. Suatu hari, Ade memutuskan berhenti mengejar popularitas dan kembali bermain musik karena cinta. Ia mulai melayani di gereja dan bermusik bersama teman-temannya. Tanpa disadari, banyak orang justru diberkati lewat permainannya. Kini Ade merasa hidupnya lebih tenang, penuh sukacita, dan tidak lagi kekurangan.
Kelaparan terus melanda tanah Israel. Stok gandum yang dibawa dari Mesir perlahan habis. Sebetulnya, keluarga Yakub sudah mendapat jaminan dari Yusuf. Mereka dapat kembali ke Mesir untuk mengambil gandum asal mereka membawa Benyamin. Syarat itulah yang ditolak oleh Yakub. Ia tidak mau kehilangan Benyamin, anaknya yang sangat ia kasihi. Namun, perlahan Yakub sadar, itulah satu-satunya jalan keluar dari persoalan yang melanda keluarga mereka. Akhirnya Yakub melepas Benyamin untuk ikut pergi ke Mesir. Kita tahu di akhir cerita, tindakan ini menjadi cikal bakal Yakub kembali bertemu dengan Yusuf. Keberanian melepas yang berharga justru menjadi awal dari pemulihan yang sejati.
Teens, kita semua memiliki hal-hal yang berharga dalam hidup. Kita tentu ingin memiliki itu selamanya. Namun, ada saatnya kita perlu melepaskannya. Mengapa? Karena semua yang kita miliki sebenarnya milik Tuhan. Jangan sampai hal yang berharga membuat kita lupa pada jalan yang Tuhan siapkan. Letting go justru bisa menjadi kekuatan tersembunyi, karena saat itu kita memberi ruang bagi Allah untuk berkarya dengan cara-Nya, bukan cara kita.
