Pada 2013, sebuah lokomotif minyak tergelincir di Lac-Mégantic, Kanada. Kereta itu membawa 27 gerbong minyak mentah. Tragedi ini membakar hampir seluruh kota kecil tersebut. Hasil investigasi menunjukkan adanya kelalaian dalam penanganan lokomotif. Karena jam kerja telah berakhir, teknisi menunda perbaikan kecil hingga keesokan paginya. Penundaan itu menyebabkan rem lokomotif gagal berfungsi. Akibatnya, pada malam itu kereta meluncur tanpa kendali dan tergelincir. Kalau saja tindakan kecil itu tidak ditunda, tragedi mengerikan ini tidak akan terjadi.
Hal serupa dialami oleh Ruben. Ketika saudara-saudaranya berniat membunuh Yusuf, Ruben sebenarnya ingin menyelamatkannya. Namun, ia tidak langsung bertindak. Ia menunda niat baik itu demi menghindari konflik dengan saudara-saudaranya. Ruben berencana menyelamatkan Yusuf setelah ia dilempar ke dalam sumur. Sayangnya, tanpa sepengetahuannya, saudara-saudaranya justru telah menjual Yusuf kepada saudagar Midian. Ketika Ruben kembali ke sumur, Yusuf sudah tidak ada. Kesempatan itu telah berlalu. Ruben pun mengoyakkan bajunya sebagai tanda penyesalan yang mendalam.
Teens, tidak jarang kita bersikap seperti Ruben atau seperti teknisi lokomotif yang menunda melakukan kebaikan padahal kesempatan masih ada. Pikiran seperti, “Nanti saja, masih ada hari esok,” sering menjadi alasan untuk menunda. Bahkan, ada kalanya kita menunda melakukan kebenaran demi menghindari konflik atau rasa tidak nyaman. Firman Tuhan hari ini mengingatkan kita bahwa niat baik saja tidak cukup jika tidak segera diwujudkan. Banyak kesempatan hilang bukan karena kita tidak tahu yang benar, melainkan karena kita menunda melakukannya. Karena itu, jika hari ini kita masih punya kesempatan untuk berbuat baik, lakukanlah sekarang juga
