Seorang murid menyontek saat ujian dan tidak ketahuan. Ia pun memperoleh nilai yang baik. Sesungguhnya ia merasa bersalah, tetapi tidak berani mengaku. Suatu hari, gurunya memanggilnya ke depan kelas untuk memujinya karena mengalami peningkatan nilai. Bukannya senang, ia malah gugup dan overthinking. Ia berpikir, “Jangan-jangan guru tahu kalau aku pernah menyontek dan pujian ini merupakan sindiran?” Hatinya menjadi tidak tenang dan terus dipenuhi dengan rasa bersalah.
Hal yang sama terjadi pada saudara-saudara Yusuf. Saat pulang dari Mesir, mereka terkejut. Uang yang mereka gunakan untuk membeli makanan ternyata dikembalikan. Artinya, mereka membawa pulang makanan itu secara gratis. Semua ini sebenarnya dilakukan Yusuf karena kasihnya kepada keluarga. Namun, bukannya senang, mereka justru ketakutan. Hati mereka menjadi kecut dan saling gemetar (ayat 28). Berkat yang seharusnya disyukuri malah terasa seperti kutuk. Mengapa begitu? Karena mereka masih menyimpan rasa bersalah atas masa lalu. Mereka pun saling menyalahkan satu sama lain (ayat 22). Akibatnya, segala hal terasa mencurigakan dan menakutkan. Hal yang sebenarnya merupakan kebaikan dan berkat malah terasa seperti beban dan kutuk. Hati yang belum pulih membuat segalanya menjadi buruk.
Teens, kesalahan masa lalu bisa membuat kita gagal melihat berkat. Hal yang baik pun bisa terasa buruk di mata kita. Sesuatu yang kita rasa toxic pun boleh jadi bukan karena ia buruk, tetapi karena hati kita yang belum pulih. Saat hal itu terjadi, rasa syukur dan sukacita perlahan hilang. Karena itu, penting untuk belajar mengampuni diri sendiri. Jangan gengsi mengakui kesalahan dan kelemahan di hadapan Tuhan. Bukalah hati, biarkan Tuhan yang menyembuhkan dan memulihkan kita sepenuhnya.
