Belakangan ini, kata ghosting cukup populer di tengah masyarakat. Kata ini biasanya dipakai untuk menggambarkan sikap seseorang yang tiba-tiba menghilang tanpa kejelasan apa pun. Ia tidak lagi membalas chat maupun mengangkat telepon. Bahkan, ia tidak muncul lagi tanpa memberi tahu alasannya pergi dan menghilang. Ia bagaikan “hantu”.
Hal ini tidak berlaku bagi Yusuf. Saat ia berjanji untuk menjamin kehidupan keluarganya selama di Mesir, Yusuf tidak melakukan ghosting. Ia menepati janjinya. Ia tidak tiba-tiba menghilang dan membiarkan keluarganya tinggal sebagai pendatang di negeri asing. Padahal, bisa saja Yusuf melakukan hal itu sebagai bentuk balas dendam. Bukankah selama ini saudara-saudaranya yang meninggalkan Yusuf? Ia ditinggalkan di sumur dan kemudian dijual kepada orang-orang Midian (bdk. Kej. 37:23–28). Namun, Yusuf tidak membalas dendam. Iman kepada Tuhan membuat Yusuf memilih untuk memerhatikan keluarganya. Ia meminta izin kepada Firaun untuk memberikan tanah Gosyen, tanah terbaik di Mesir, bagi keluarganya. Ia tak membiarkan keluarganya mengalami kekurangan.
Teens, kita pasti pernah berjanji kepada keluarga. Mungkin janji itu soal bantuan atau sekadar memberi kabar kepada mereka. Apakah kita sudah menepatinya? Kadang, karena kesibukan atau alasan lain, kita lupa melakukannya. Bukankah tindakan ini termasuk ghosting kepada keluarga? Dalam situasi ini, kita diingatkan untuk meneladani Yusuf yang memberi perhatian kepada keluarganya. Keluarga bukanlah sosok yang sempurna. Namun, Allah menghadirkan keluarga sebagai tempat kita belajar menghadirkan diri dan saling peduli. Kita dapat memulainya dari hal sederhana, seperti tidak lupa memberi kabar kepada orang tua atau saudara. Dengan sikap kecil ini, kita belajar untuk anti-ghosting terhadap keluarga.
