Seorang ayah bekerja di luar negeri untuk waktu yang sangat lama demi masa depan anak-anaknya. Setiap minggu, ia mengirim surat kepada anak-anaknya. Isinya bukan hanya kabar, tetapi juga nasihat, semangat, dan kerinduan yang mendalam. Ia hadir dalam setiap kata, dan kerinduan itu menjadi kekuatan. Seperti itulah kerinduan Rasul Paulus. Ia belum bisa datang ke Roma, sehingga ia menulis surat dan berdoa sebagai bentuk pelayanan dari jauh.
Paulus mengungkapkan kepada jemaat Kristen di Roma betapa ia sangat ingin pergi ke sana untuk menemui mereka dan terus berdoa agar kedatangannya dikehendaki Allah. Paulus ingin sekali datang dan berkhotbah di kota metropolitan Roma yang multikultural. Paulus tidak takut menghadapi keragaman itu. Sebaliknya, ia terdorong oleh semangat Injil yang inklusif dan menyelamatkan. Ia tahu bahwa iman tidak tumbuh dalam kesendirian, tetapi melalui perjumpaan, penguatan bersama, dan kesediaan untuk memberi serta menerima. Kerinduan Paulus menunjukkan bahwa ia tidak sekadar ambisius, tetapi taat. Ia mau datang jika Tuhan mengizinkan. Ada ketundukan yang dalam pada kehendak Allah.
Youth, apa yang dilakukan oleh Paulus adalah kerinduan dan komitmen kepada Injil. Kerinduannya dapat menginspirasi kita untuk memiliki semangat bertemu, menguatkan, dan membawa kabar baik, bukan hanya di ruang aman, tetapi juga di “Roma” kita masing-masing! Tentu, dasarnya adalah bahwa kasih Kristus tidak bisa dibatasi oleh jarak, budaya, atau zona aman. Ia harus dinyatakan secara relevan dalam kebenaran-Nya.
- Mengapa Paulus memiliki kerinduan untuk mengunjungi jemaat di Roma?
- Apa yang kamu lakukan untuk memupuk kerinduan berbagi Injil?
Pokok Doa: Kerinduan untuk menyatakan Injil Kristus secara relevan.
