“Jatuh cinta berjuta rasanya, biar siang, biar malam, terbayang wajahnya. Jatuh cinta berjuta indahnya, biar hitam, biar putih, manislah nampaknya.” Itulah sebagian lirik lagu berjudul “Jatuh Cinta” yang dinyanyikan oleh Titiek Puspa. Lagu tersebut menggambarkan suasana gembira yang dialami seseorang ketika jatuh cinta. Antara satu dengan yang lain terjalin relasi yang dekat dan saling bersukacita ketika bersama.
Relasi kekasih inilah yang menjadi gambaran hubungan antara TUHAN dan umat-Nya dalam Kidung Agung yang kita baca. Gambaran perjumpaan yang melahirkan kegembiraan tergambar dalam kalimat, “Dengarlah! Kekasihku! Lihatlah, ia datang, melompat-lompat di atas gunung-gunung, meloncat-loncat di atas bukit-bukit” (ayat 8). Relasi inilah yang menjadi harapan dalam kehidupan umat bersama TUHAN. Puisi ini menggambarkan umat yang diajak untuk terus memperdalam relasi dengan TUHAN.
Youth, bisa jadi selama ini kita beribadah, melayani, mengikuti persekutuan, dan menjalankan renungan harian hanya sebagai formalitas atau sekadar penjadwalan kegiatan pelayanan dan bukan karena kerinduan. Oleh sebab itu, kita diingatkan untuk melakukan semuanya bukan sekadar formalitas, melainkan sebagai upaya menjalin relasi dan memperdalam kasih kita kepada Tuhan. Melalui teks Alkitab hari ini, kita diajak untuk menghayati perjumpaan dengan Tuhan melalui saat teduh, persekutuan, dan ibadah menjadi momen yang menggembirakan, bukan perjumpaan yang menjemukan atau sekadar kewajiban tanpa makna karena sudah menjadi kebiasaan.
- Bagaimana gambaran relasi kekasih dalam teks Alkitab yang kita baca?
- Apa yang membuat kita enggan untuk berelasi dengan Tuhan lebih jauh?
Pokok Doa: Kesetiaan untuk terus mengalami relasi dengan Tuhan.
