Pernahkah kamu melihat dua orang Kristen saling menyerang di media sosial atau bertengkar di grup chat? Mereka berusaha membenarkan diri dengan membongkar aib lawan atau mencari dukungan dari orang-orang yang tidak berpegang pada prinsip iman. Semangat yang muncul bukan lagi kasih dan kerinduan untuk memelihara persekutuan, melainkan keinginan untuk membalas dan menang sendiri. Inilah gambaran situasi dalam jemaat Korintus.
Ada beberapa orang Kristen di Korintus yang terlibat dalam gugatan hukum satu sama lain atas perselisihan kecil. Rasul Paulus menolak sikap ini. Keberatan utamanya adalah bahwa mereka memilih membawa persoalan yang sepele ke pengadilan pemerintah sekuler. Paulus tidak mengatakan bahwa orang Kristen tidak boleh berada di bawah otoritas pemerintah sekuler. Namun, membawa perselisihan internal keluar bukan hanya memalukan secara sosial, tetapi juga secara rohani. Hal itu menunjukkan bahwa mereka tidak cukup dewasa dalam iman dan bijaksana untuk menjadi penengah. Gereja seharusnya mampu menyelesaikan perselisihan di antara saudara seiman.
Youth, sering kali kita cepat mencari pembenaran di luar persekutuan yang tidak memegang nilai-nilai Kristiani. Padahal, tubuh Kristus dipanggil untuk hidup dalam kasih, saling mengampuni, dan menyelesaikan masalah dengan hikmat dari Allah. Ukuran kematangan rohani bukan terletak pada seberapa banyak pengetahuan Alkitab yang kita miliki, melainkan pada seberapa sanggup kita menerapkannya untuk membangun, memulihkan, dan mempersatukan tubuh Kristus.
- Mengapa Paulus menegur tentang membawa masalah internal ke pengadilan sekuler?
- Sejauh mana kamu menjadi penengah yang bijak dalam persekutuan?
Pokok Doa: Hikmat untuk menangani perselisihan dalam komunitas.
