Seorang pria merasa sedih karena saudara-saudaranya mencuranginya. Bagian warisan yang seharusnya menjadi miliknya, sebagaimana wasiat ibunya, tidak diberikan kepadanya. Saudara-saudaranya membagi warisan tersebut sesuai dengan keinginan mereka sendiri dan bahkan mengambil bagian yang menjadi haknya. Ia pun bergumul. Ia ingin membawa perkara ini ke pengadilan dan memenjarakan saudara-saudaranya. Namun, akhirnya ia memilih untuk tidak menggugat mereka dan menerima bagian yang ada dengan lapang dada.
Kisah ini mengingatkan kita pada Yusuf yang mengenali saudara-saudaranya, orang-orang yang dahulu telah menjualnya sebagai budak. Kini, ia memiliki kesempatan untuk membalas dendam dengan posisinya sebagai orang yang berkuasa di Mesir. Namun, Yusuf tidak dapat memungkiri bahwa ia tetap mengasihi saudara-saudaranya, terlebih ketika melihat keadaan mereka yang sedang kesusahan. Yusuf pun menangis. Air matanya mengalir karena rindu, sedih, sekaligus sukacita saat bertemu kembali dengan mereka. Kasih yang memenuhi hatinya membuat Yusuf memilih untuk tidak membalas kejahatan yang pernah dilakukan saudara-saudaranya.
Sahabat Senior, kasih Allah akan menolong kita untuk mengatasi kemarahan dan kesedihan terhadap orang yang telah mengecewakan atau menyakiti kita. Sebesar apa pun kekecewaan itu, mintalah Tuhan melembutkan hati kita yang keras dan menjadikan kita alat kasih-Nya.
DOA:
Tuhan, ubahkanlah hati yang keras agar menjadi lembut dan mampukan kami mengasihi mereka yang telah menyakiti kami. Amin.
