Seorang laki-laki kehilangan istrinya saat melahirkan anak bungsu mereka. Ia sempat mendengar nama yang diberikan sang istri kepada bayi itu, yaitu “Rasa Sakitku”. Semua orang memahaminya, karena anak ini lahir di tengah kesakitan. Namun, sang laki-laki berkata, “Namanya bukan ‘sakitku’, melainkan ‘anakku yang berharga’.” Ia pun memutuskan untuk memberikan nama baru itu sebagai lambang harapan di tengah luka dan duka.
Hal serupa terjadi pada Yakub ketika Rahel meninggal setelah melahirkan anak kedua mereka. Dalam kesakitan dan menjelang ajal, Rahel menamai anak itu Ben-oni, yang berarti “anak kesedihanku”. Akan tetapi, Yakub memilih untuk tidak membiarkan kesedihan menentukan masa depan anak itu. Ia menamainya Benyamin, yang berarti “anak tangan kananku”, sebagai simbol kekuatan, harapan, dan penerimaan. Di tengah dukacita, Yakub mengambil keputusan untuk melihat masa depan dengan iman, bukan terikat pada luka masa lalu.
Sahabat Senior, mungkin kita pernah mengalami luka atau kehilangan. Namun, hari ini kita diingatkan bahwa bersama Tuhan, kesedihan tidak harus menjadi akhir dari cerita. Seperti Yakub, kita dapat memilih untuk melihat harapan. Marilah kita menyerahkan setiap luka hati kepada Tuhan dan mengizinkan Dia memberikan “nama baru” bagi setiap musim kehidupan kita. Bukan berdasarkan air mata, melainkan berdasarkan kasih dan janji-Nya.
DOA:
Ya Tuhan, terima kasih oleh karena kehadiran-Mu, maka kesedihan dan persoalan bukan menjadi akhir, melainkan awal kami menaruh harapan yang menguatkan kami. Amin.
