Dunia mengenal Ibu Teresa sebagai sosok yang setia pada panggilan Tuhan. Pengabdiannya menjadi bukti nyata kesetiaannya. Ia merawat orang miskin dan mereka yang sekarat, meskipun kerap ditolak, disalahpahami, bahkan dicurigai niat baiknya. Suatu hari, seorang wartawan bertanya mengapa ia tetap melakukan hal itu. Ia menjawab, “Tugas kita bukan untuk berhasil, tetapi untuk setia.” Kesetiaan seperti inilah yang menyentuh hati banyak orang, bahkan di tengah ketidakadilan dan ketidakpedulian.
Dalam Roma 3:1–8, Rasul Paulus menjelaskan bahwa sekalipun manusia sering tidak setia kepada Allah, Allah tidak berubah. Ia tetap setia pada janji-Nya. Ketika umat-Nya gagal menaati hukum, Tuhan tidak serta-merta membatalkan kasih-Nya. Sebaliknya, di tengah ketidaksetiaan manusia, kesetiaan Allah justru semakin nyata, mulia, dan teguh. Kesetiaan Allah tidak bergantung pada perbuatan manusia. Inilah yang menjadi dasar bahwa Dia adalah Allah yang dapat dipercaya oleh umat-Nya.
Sahabat Senior yang terkasih, mungkin kita pernah lalai, kecewa, atau menjauh dari Tuhan. Namun, bagaimana pun sikap kita, Allah tetap setia. Ia tidak meninggalkan kita, bahkan ketika kita lemah. Marilah kita juga belajar setia kepada Tuhan dalam segala keadaan. Hanya Dialah alasan kita tetap beriman, sebab Dia dapat dipercaya.
DOA:
Tuhan Allah yang setia, terima kasih atas kesetiaan-Mu terhadap kami. Kiranya Engkau memampukan kami untuk tetap setia mengikuti jalan-Mu. Amin.
