Di sebuah desa di lereng gunung, terdapat sebuah batu besar yang disebut warga sebagai batu penanda. Batu itu tidak pernah bergeser, meskipun bertahun-tahun dilalui hujan, banjir, dan gempa. Para orang tua berkata, “Kalau sudah sampai di batu itu, berarti kamu sudah dekat dengan rumah.” Batu ini memberikan rasa aman dan arah, terutama saat gelap atau tersesat. Meskipun tampak sederhana, batu itu menjadi sandaran bagi banyak orang.
Demikian juga dalam Kitab Yesaya 44:6–8, TUHAN digambarkan sebagai Gunung Batu yang kokoh. Ia menyatakan diri-Nya sebagai satu-satunya Allah, tidak ada yang lain. Ia berkata, “Adakah ilah selain Aku? Tidak ada!” TUHAN adalah tempat perlindungan yang tidak tergoyahkan. Berbeda dengan ilah buatan manusia, TUHAN tidak berubah oleh waktu dan tidak goyah oleh keadaan. Ia adalah sandaran yang paling aman, dapat diandalkan, dan pasti.
Sahabat Senior, dalam hidup yang terus berubah, kita tetap memiliki satu kepastian: Tuhan adalah Gunung Batu kita. Sebagai Gunung Batu, Tuhan adalah tempat perlindungan yang kokoh dan tempat bersandar. Saat hati gentar, ingatlah bahwa kita memiliki Allah yang tidak tergantikan dan tidak tergoyahkan. Ia adalah sandaran yang kokoh saat kita lelah, Gunung Batu yang menyelamatkan, dan kasih-Nya tak berubah, bahkan mengubah hidup kita.
DOA:
Tuhan, Engkaulah tempat sandaran dan perlindungan kami. Tidak ada yang lain selain Engkau Gunung Batu yang kokoh. Amin.
