Opa Frank dulunya adalah seorang tentara. Ia terbiasa hidup keras, tegas, dan kaku. Setelah pensiun dan kehilangan istrinya, anak-anaknya menyarankan agar ia pindah ke panti wreda. Awalnya, ia menolak, tetapi akhirnya ia menyetujuinya dengan berat hati. Di panti, ia bergaul dengan sesama lansia. Suatu hari, ia bertengkar dengan Oma Sari mengenai giliran menonton televisi. Namun, alih-alih marah, Oma Sari berkata sambil tersenyum, “Daripada ribut soal televisi, lebih baik kita bernyanyi bersama.” Opa Frank terdiam. Peristiwa itu menjadi awal perubahan sikapnya. Ia mulai belajar menjadi lebih lembut. Hari-harinya pun menjadi lebih damai, tenang, dan hangat.
Yesaya 2:4 berbicara tentang pengharapan besar bahwa suatu hari nanti manusia tidak lagi berperang, melainkan hidup saling membangun. Pedang diubah menjadi mata bajak—alat untuk menanam, bukan melukai. Ini merupakan gambaran damai yang Allah kehendaki, yang dimulai dari hati setiap orang.
Sahabat Senior yang dikasihi Tuhan, kita mungkin menyimpan luka atau kepahitan yang membuat hati menjadi keras. Tuhan mengundang kita untuk mengubahnya menjadi semangat untuk membangun, menguatkan, dan mendamaikan. Damai bukan sekadar tidak bertengkar, melainkan memilih untuk menciptakan suasana yang penuh kasih. Di usia lanjut ini, marilah kita menjadi pembawa damai di mana pun kita berada.
DOA:
Terima kasih Tuhan, Engkau mendamaikan kami dan menjadikan kami juru damai-Mu. Amin.
