Banyak orang bersemangat saat awal terjun dalam pelayanan. Mereka rela memberi waktu, tenaga, dan ide. Namun, antusiasme itu diuji ketika kenyataan tidak sesuai harapan: pujian berubah menjadi kritik, dukungan menjadi penolakan, atau tanggung jawab terasa berat. Di sinilah komitmen diuji, sebab tidak semua mau bertahan menghadapi kesulitan dan tantangan pelayanan.
Pelayanan yang dilakukan oleh Rasul Paulus dan Barnabas sarat dengan tantangan, kesulitan, dan kesengsaraan. Walaupun banyak yang percaya pada berita Injil, tidak sedikit juga yang membenci upaya ini. Orang-orang Yahudi dari Antiokhia dan Ikonium datang ke Listra, lalu menghasut orang banyak untuk melempari Paulus dengan batu, menyeretnya, dan meninggalkannya dalam keadaan sekarat. Namun, Tuhan menyelamatkan Paulus sehingga ia dan Barnabas dapat melanjutkan perjalanan menuju Derbe. Di Derbe, Paulus dan Barnabas dapat berbicara dari pengalaman mereka tentang realitas penderitaan demi iman. Ini bukan sekadar gagasan teoretis, melainkan pengalaman yang nyata. Para murid diteguhkan agar tetap kuat di jalan Kerajaan Allah yang penuh tantangan dan sengsara. Meskipun demikian, penyertaan Allah sempurna.
Youth, Kerajaan Allah tidak hanya tentang berkat dan sukacita, tetapi juga tentang ketekunan dan kesetiaan di tengah ujian. Dalam perjalanan iman, kita belajar mengubah cara pandang terhadap penderitaan. Penderitaan bukanlah musuh, melainkan proses iman. Kita dipanggil untuk tetap teguh, saling menguatkan, dan melihat penderitaan sebagai bagian dari pembentukan iman. Ibarat seorang pelari, ini proses panjang: marathon, bukan sprint!
- Apa yang dialami oleh Paulus dan Barnabas saat mereka berada di Listra?
- Apa saja tantangan yang kamu alami untuk setia dalam iman?
Pokok Doa: Saling menguatkan dalam tantangan hidup beriman.
