Oma Tuti dan Opa Budi itu telah memiliki beberapa cucu. Namun, Opa Budi menyatakan keinginannya untuk berpisah dari Oma Tuti. Ia menjelaskan bahwa dirinya sudah tidak tahan karena Oma Tuti selalu mengungkit kesalahan yang pernah ia lakukan pada masa mudanya. Untungnya, pada akhirnya Opa Budi membatalkan niat tersebut. Seorang pendeta menasihati mereka agar saling memaafkan serta tidak lagi mengungkit kesalahan di masa lalu.
Pemazmur menyatakan bahwa Allah mengampuni dan tidak mengingat kesalahan umat-Nya. Padahal, pemazmur menyadari begitu besar kesalahannya kepada TUHAN. Kesalahannya itu sebenarnya layak mendapat hukuman, tetapi pemazmur mendapat kesempatan untuk menikmati anugerah pengampunan dari TUHAN. Jika TUHAN tidak mengingat-ingat kesalahan manusia dan memberikan pengampunan, bukankah seharusnya manusia pun melakukan hal yang sama?
Sahabat Senior, setiap orang dapat melakukan kesalahan. Yang terpenting adalah kesediaan untuk memperbaiki kesalahan tersebut. Tuhan memberi kita kesempatan untuk membuka lembaran baru dalam kasih dan pengampunan-Nya. Janganlah terus menyimpan catatan dosa dan kesalahan orang-orang di sekitar kita. Marilah menyambut anugerah Tuhan dan membuka lembaran baru bagi mereka yang pernah bersalah kepada kita.
DOA:
Tuhan, ampunilah kami yang masih menyimpan kesalahan orang lain. Ajar kami memaafkan berdasarkan kasih dan anugerah-Mu. Amin.
