Pada masa Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, material yang sangat penting untuk mendirikan bangunan adalah batu, karena saat itu belum tersedia bahan bangunan seperti pada masa kini. Pada masa itu, ada banyak jenis batu yang digunakan untuk mendirikan bangunan, khususnya sebagai fondasi, misalnya batu belah, batu bulat, dan batu karang. Namun demikian, tidak semua jenis batu dapat digunakan untuk mendirikan bangunan. Batu yang dianggap tidak layak digunakan tentu akan dibuang.
Bacaan hari ini mengungkapkan bahwa “Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru.” Ayat ini menunjuk kepada Tuhan Yesus, sosok yang ditolak bahkan disalibkan, tetapi Dia ditinggikan melalui karya kebangkitan- Nya. Sebagai “batu yang dibuang”, Tuhan Yesus telah menjadi batu penjuru, yaitu batu besar yang ditempatkan di sudut utama bangunan, batu yang menentukan posisi seluruh struktur bangunan. Sebagai batu penjuru, Tuhan Yesus menjadi dasar berdirinya gereja melalui karya penyelamatan.
Sahabat Senior, kita adalah batu-batu yang hidup, yang dipanggil untuk ambil bagian dalam pembangunan jemaat Tuhan. Kita semua, apa pun keadaannya, dapat berperan di dalam gereja Tuhan. Karena itu, meskipun usia tidak lagi muda, semangat untuk terlibat dalam persekutuan dan pelayanan harus selalu menyala.
DOA:
Ya Tuhan, kami bersyukur atas karya-Mu sebagai batu penjuru.Jadikan kami batu-batu yang hidup bagi terbangunnya jemaat-Mu.
Amin.
