Betul, kamu tidak salah baca. Bukan Susan, bukan Suzan, melainkan suuzan. Mungkin kamu lebih mengenal kata itu dalam lafal bahasa Arab, suudzon. Namun, kata suudzon telah diserap ke dalam bahasa Indonesia menjadi suuzan. Suuzan berarti “berprasangka buruk”, lawan dari husnuzan yang berarti “berprasangka baik”. Sering kali, kita suuzan atau berprasangka buruk terhadap sesuatu yang belum kita kenal. Ketika berprasangka buruk, kita cenderung salah mengambil sikap, baik terhadap situasi maupun terhadap seseorang
Karena suuzan terhadap Abimelekh, raja Gerar, Abraham akhirnya salah mengambil sikap. Ia berprasangka bahwa Abimelekh dan orang-orang di Gerar tidak mengenal Allah, sehingga ia takut Abimelekh akan berbuat jahat terhadapnya demi mendapatkan Sara. Sama seperti yang terjadi di Mesir (Kejadian 12:10–20), Abraham mengaku bahwa Sara adalah saudaranya. Mengetahui hal itu, Abimelekh mengambil Sara untuk dijadikan istri. Namun, Allah menampakkan diri kepada Abimelekh dalam mimpi dan menyuruhnya mengembalikan Sara. Jika tidak, Abimelekh dan seluruh orang Gerar akan mendapat hukuman. Sesungguhnya, Abimelekh takut akan TUHAN, sehingga ia pun mengembalikan Sara kepada suaminya. Ia kesal terhadap Abraham karena telah berbohong dan membuatnya terancam bahaya. Abraham pun menyesal karena telah suuzan dan berdoa kepada TUHAN agar Gerar terhindar dari hukuman.
Teens, kecenderungan manusia ketika bertemu dengan seseorang atau sesuatu yang belum dikenal adalah curiga atau berprasangka buruk. Hal ini merupakan mekanisme pertahanan diri manusia. Namun, kadang apa yang kita sangka buruk ternyata tidak demikian. Bahkan, berprasangka buruk dapat menimbulkan masalah baru bagi kita. Karena itu, berusahalah mengenal terlebih dahulu sebelum memberi penilaian.
