Seorang ibu memilih untuk tidak ikut tinggal bersama putra tunggalnya yang telah berumah tangga. Keputusan itu bukanlah hal yang mudah baginya. Di satu sisi, ia mengetahui bahwa putranya ingin ia tinggal bersama mereka. Namun, di sisi lain, ia merasa kurang cocok dengan menantu perempuannya. Ia tidak ingin menempatkan putranya dalam posisi yang sulit, terutama jika putranya harus menghadapi pertentangan antara ibu dan istrinya. Meskipun putranya mencemaskan keadaannya, ibu tersebut meyakinkan bahwa ia masih mampu hidup mandiri di rumahnya sendiri.
Hal serupa juga dialami oleh Yakub. Ia merelakan Benyamin, anak bungsu yang sangat dikasihinya, untuk dibawa ke Mesir. Hal itu menjadi syarat yang diminta agar anak-anaknya dapat kembali membeli makanan di sana. Walaupun dengan berat hati, Yakub akhirnya mengizinkan Benyamin pergi bersama saudara-saudaranya. Keputusan ini diambil bukan tanpa pergumulan yang mendalam. Namun, demi kelangsungan hidup seluruh keluarganya, Yakub rela menekan egonya.
Sahabat Senior, mengalahkan ego diri demi kepentingan yang lebih besar merupakan sikap iman yang mencerminkan kerendahan hati. Seseorang yang rela berkorban tidak lagi mengutamakan kepentingan pribadi, melainkan kepentingan banyak orang. Marilah kita tidak ragu untuk menolong dan rela berkorban bagi sesama demi mendatangkan kebaikan.
DOA:
Tuhan, kiranya Engkau mendengarkan seruan doa kami.Tuhan, berilah kami kerendahan hati agar mampu mengalahkan ego kami demi kebaikan bersama. Amin. Ke dalam kehendak-Mu, kami berserah. Amin
