Teens, pernahkah kamu merasa bingung ketika membaca kisah Kain dan Habel dalam Kejadian 4? Mengapa TUHAN mengindahkan persembahan Habel, tetapi tidak mengindahkan persembahan Kain? Bukankah keduanya sama-sama memberikan persembahan? Kain membawa hasil tanah, sedangkan Habel mempersembahkan anak sulung dari kambing dombanya. Sekilas, tidak ada yang tampak salah. Namun, respons TUHAN yang berbeda menimbulkan pertanyaan: apakah TUHAN pilih kasih, atau ada makna yang lebih dalam yang hendak Dia ajarkan melalui peristiwa ini?
Teks Alkitab yang kita baca hari ini menunjukkan bahwa TUHAN adalah Pribadi yang berdaulat penuh. Artinya, Ia memiliki hak sepenuhnya untuk menentukan apa yang berkenan kepada-Nya tanpa harus mengikuti ukuran manusia. Kedaulatan TUHAN bukan berarti Ia bertindak sembarangan, melainkan bahwa penilaian-Nya sempurna dan melampaui apa yang tampak di permukaan. Ia menilai hati, iman, dan motivasi terdalam manusia. Penilaian TUHAN selalu benar, meskipun tidak selalu mudah dipahami oleh manusia. Oleh karena itu, manusia dipanggil bukan untuk menghakimi atau mempertanyakan keputusan TUHAN, melainkan untuk datang kepada-Nya dengan sikap yang benar, serta memberikan persembahan terbaik dengan hati yang tulus dan iman yang hidup.
Teens, marilah kita belajar mempersembahkan yang terbaik dalam hidup kita. Berikan waktu, tenaga, dan hati dengan sungguh-sungguh kepada Tuhan, bukan sekadar asal memberi. Setelah itu, belajarlah untuk percaya sepenuhnya kepada kedaulatan Tuhan. Ia berhak menilai dan menentukan apa yang berkenan kepada-Nya. Kita tidak perlu membandingkan diri dengan orang lain atau menuntut pengakuan, melainkan tetap setia dan menyerahkan hasilnya kepada Tuhan
