Kita hidup di tengah dunia yang sering terasa “edan”: kebohongan dianggap biasa, kecurangan ditoleransi, dan hal yang salah justru kerap dianggap keren. Tidak sedikit remaja yang akhirnya ikut arus karena takut dianggap aneh atau dikucilkan. Muncul pertanyaan dalam hati: apakah mungkin tetap hidup benar ketika dosa merajalela di sekitar kita? Atau, jangan-jangan, memang sudah tidak ada lagi ruang untuk hidup benar pada zaman seperti ini?
Kejadian 6:9 memberikan jawaban yang jelas melalui sosok Nuh. Di tengah dunia yang penuh dosa, kekerasan, dan kerusakan moral, Nuh tetap hidup benar dan tidak bercela di hadapan TUHAN. Ia tidak terbawa arus, tidak ikut-ikutan melakukan kejahatan seperti orang lain. Kuncinya bukan pada kekuatan dirinya sendiri, melainkan pada hubungannya dengan Allah. Alkitab mencatat bahwa Nuh hidup bergaul dengan Allah. Ia memelihara relasi yang dekat dengan TUHAN. Dari situlah ia memperoleh kekuatan untuk tetap taat dan tidak tergoyahkan. Inilah bukti iman yang nyata: bukan hanya percaya, tetapi juga hidup dalam hubungan yang terus-menerus dengan TUHAN.
Teens, kisah Nuh memberi tantangan sekaligus harapan bagi kita. Jika Nuh dapat hidup benar di tengah dunia yang sangat rusak, kita pun dapat melakukannya pada zaman sekarang. Jangan menyerah pada keadaan atau alasan “semua orang juga begitu”. Justru di tengah kecenderungan pola hidup ikut-ikutan, kita dipanggil untuk berbeda. Peliharalah hubunganmu dengan Tuhan, karena di situlah sumber kekuatan untuk tetap hidup benar. Itulah wujud iman yang sejati—iman yang bukan hanya diucapkan, tetapi dijalani. Iman seperti itulah yang akan menolong kita bertahan, bahkan menyelamatkan kita dari kehancuran akibat dosa.
