Pada zaman kuno, khususnya di Babel, orang-orang percaya bahwa benda-benda langit adalah ilah. Matahari dianggap sebagai dewa yang disebut Shemesh, sedangkan bulan dipandang sebagai dewi bernama Sin. Bagi mereka, terang yang besar dan kecil itu bukan sekadar ciptaan, melainkan sosok yang disembah dan ditakuti. Ketika bangsa Israel dibuang ke Babel, mereka hidup di tengah budaya yang kuat memegang kepercayaan ini. Tidak sedikit dari mereka yang mulai terpengaruh, merasa gentar, bahkan tergoda untuk ikut menghormatinya. Matahari dan bulan pun dipandang sebagai ilah yang berkuasa atas hidup manusia.
Melalui kisah penciptaan benda-benda penerang, seperti dicatat dalam teks kita hari ini, Alkitab dengan tegas menyatakan bahwa matahari, bulan, dan bintang bukanlah ilah, melainkan ciptaan Allah. Semuanya dijadikan untuk tujuan yang jelas: menjadi penanda waktu, mengatur hari dan musim, serta menjaga keteraturan bagi seluruh makhluk hidup. Dengan kata lain, benda-benda langit itu bukan penguasa, melainkan alat di tangan Sang Pencipta. Allah menunjukkan bahwa hanya Dia yang berkuasa penuh atas alam semesta. Karena itu, manusia tidak perlu takut atau menyembah ciptaan, sebab semuanya tunduk kepada Allah.
Teens, saat ini kita memang tidak menyembah matahari atau bulan. Namun, di era zaman now, muncul “ilah-ilah” baru, seperti jumlah followers, likes di media sosial, tren, atau keinginan untuk diakui teman. Kita memberi banyak perhatian, energi, dan waktu untuk meraih semua itu. Tanpa sadar, kita bisa lebih takut ketinggalan tren daripada kehilangan relasi dengan Tuhan. Firman Tuhan hari ini mengingatkan kita untuk tetap menempatkan Tuhan sebagai pusat hidup, agar tidak mudah goyah oleh tekanan zaman.
