“Apalah arti sebuah nama?” Itu adalah perkataan Juliet kepada Romeo dalam drama Romeo and Juliet, karya sastrawan besar Inggris, William Shakespeare. Sepintas, ungkapan ini menunjukkan bahwa nama tidak penting. Namun, perkataan Juliet tersebut sebenarnya merupakan ungkapan keputusasaan. Juliet, yang berasal dari keluarga Capulet, jatuh cinta kepada Romeo dari keluarga Montague. Nama keluarga mereka justru menjadi penghalang cinta. Juliet berkata demikian karena putus asa terhadap keadaan. Seharusnya nama tidak menjadi persoalan dalam cinta, tetapi dalam konteks mereka justru sangat berarti.
Budaya Timur cenderung memberi makna yang dalam pada sebuah nama, sebab di dalam nama terkandung doa dan harapan. Dalam Alkitab, nama juga memiliki arti penting. Karena itu, Allah mengubah nama Abram, yang berarti “bapa yang mulia”, menjadi Abraham, yang berarti “bapa banyak bangsa” (ayat 5). Hal ini berkaitan dengan janji Allah bahwa Ia akan menjadikan keturunan Abram sebagai bangsa besar, dan melalui dia semua bangsa memperoleh berkat. Selain itu, Allah juga mengubah nama Sarai menjadi Sara (ayat 15). Nama Sara berarti “putri” (bahasa Inggris: princess), sedangkan Sarai berarti “putriku” (bahasa Inggris: my princess). Perubahan nama Sarai menjadi Sara juga memiliki makna yang dalam. Sebab, jika Abraham menjadi bapa banyak bangsa, Sara pun menjadi putri atau ibu bagi semua orang, tidak hanya bagi satu orang saja. Bersama dengan Abraham, Sara pun menjadi berkat bagi banyak bangsa.
Teens, apa arti namamu? Tentu di dalam namamu terkandung doa dan harapan orang tuamu. Sudahkah kamu hidup sesuai dengan makna, doa, dan harapan tersebut? Terlepas dari arti namamu, apakah kamu sudah hidup menjadi berkat bagi banyak orang, seperti Abraham dan Sara?
