Like father, like son. Itu adalah ungkapan atau idiom dalam bahasa Inggris yang menyatakan kesamaan sifat antara bapak dan anak. Arti harfiahnya, “seperti ayah, seperti anak,” terdengar asing di telinga kita. Dalam bahasa Indonesia, kita juga mengenal ungkapan serupa, misalnya “Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya” atau “Air cucuran atap jatuh ke pelimbahan juga.” Kedua ungkapan ini bermakna bahwa sifat atau karakter anak tidak jauh berbeda dengan orang tuanya, atau karakter seorang anak menurun dari orang tuanya.
Inilah yang terjadi dengan Ishak, anak Abraham. Dua kali kita melihat Abraham berbohong karena curiga dan takut dicelakai. Yang pertama, ketika ia berbohong di Mesir karena takut dicelakai Firaun (Kejadian 12:10-20). Yang kedua, ketika ia berbohong mengenai hal yang sama—bahwa Sara bukan istrinya—karena ia berburuk sangka terhadap Abimelekh, raja Gerar (Kejadian 20). Ishak juga melakukan hal serupa kepada Abimelekh ketika ia berada di Gerar. Ia mengaku bahwa Ribka adalah adiknya karena takut dicelakai oleh orang-orang yang ingin menjadikan Ribka sebagai istri. Namun berbeda dengan Abraham, kali ini Abimelekh melihat sendiri Ishak bermesraan dengan Ribka sehingga ia tahu bahwa Ribka adalah istri Ishak. Abimelekh lalu memperingatkan Ishak karena kebohongannya justru akan merugikan dirinya dan Ribka.
Teens, tidak ada orang tua yang sempurna. Semua orang tua pernah melakukan kesalahan. Namun, kamu tidak perlu mengulangi kesalahan yang sama seperti orang tua kita. Orang tua memang menjadi teladan kita, tetapi bukan berarti menjadi teladan dalam melakukan kesalahan juga. Jangan sampai kamu jatuh pada kesalahan yang sama. Kamu perlu belajar dari kesalahan mereka agar tidak mengulanginya.
