Sejak masih kanak-kanak, lelaki sering dilarang menangis. Entah sakit karena jatuh, sedih karena hewan peliharaannya mati, atau dirundung oleh temannya, anak lelaki dianggap tidak boleh menangis. Ia harus kuat dan tahan banting. Menangis dianggap sebagai tanda kelemahan dan kerapuhan.
Sara mati. Apakah Abraham tabah, tersenyum, dan bersyukur? Tidak! Penulis Kitab Kejadian mencatat apa yang terjadi pada Abraham ketika Sara meninggal. Abraham meratapi dan menangisi Sara. Ia bersedih, ia berkabung, dan air matanya jatuh membasahi wajahnya. Abraham, seorang lelaki dewasa, bapa orang percaya itu, menangis dan meratap.
Sahabat Senior, lelaki maupun perempuan sama-sama memiliki emosi. Keduanya diciptakan dengan perasaan dan diberi kemampuan untuk merasakan. Oleh karena itu, jika kesedihan muncul dalam hati seseorang, entah perempuan atau lelaki, ia boleh saja meratap dan menangis. Air mata bukan tanda kelemahan atau kekalahan. Air mata adalah tanda cinta bagi mereka yang telah meninggal, sekaligus tanda cinta bagi diri sendiri yang sedang kehilangan. Jadi, ketika kita melihat ada lelaki atau perempuan yang sedang menangis, biarkanlah. Berilah kesempatan baginya untuk jujur menerima perasaannya sendiri. Tidak semua orang harus selalu kuat. Tuhan dekat dengan orang-orang yang remuk hatinya.
DOA:
Tuhan, terima kasih karena Engkau memahami bahasa air mata dan tidak memandang lemah kami yang menangis dan meratap dalam dukacita. Amin.
